Skip to main content

Penyebab Diterima atau Tidaknya sebuah Artikel Oleh Media Massa


" Oleh: Labibah Musfiroh"

Penyebab Artkel Diterima di Media masa:
  •             Judul artikel menarik (menarik, unik, aneh, dan disukai oleh banyak orang).
  •        Terdapat kata kunci.
  •            Badan artikel (ilmu pengetahuan yang menarik dan bermanfaat).
  •        Tata tulis sesuai dengan ejaan dan bahasa yang digunakannya komunikatif.

Penyebab Ditolaknya Artikel di Media Masa:
  •         Topiknya kurang aktual(tidak uptodate).
  •         Argumen dan pandangan yang dikemukakan penulis bukan hal yang baru.
  •         Cara penyajiannya yang terlalu panjang dan masih menggunakan bahasa lisan yang berputar-putar.
  •          Konteksnya kurang jelas dan bahasanya kurang elegan.
  •          Cakupannya mikro atau lokal.
  •          Bahasanya kurang populer dan kurang komunikatif.
  •         Terlalu banyak kutipan yang tidak perlu.

Nah, kalo yang ini yang sumber dari buku :
Sebelum kita menulis sebaiknya kita harus melakukan beberapa hal berikut ini agar artikel kita bagus dan menarik untuk publik.
  •          Berfikir Kritis-Reflektif
Berfikir kritis dipercaya sebagai keterampilan aktif sesorang penulis dalam menginterpretasi dan mengevaluasi ihwal observasi, komunikasi, informasi, dan argumentasi yang dibangunnya.
o   Kesadaran Berbahasa
Dalam kaitan ini adalah kesadaran yang terefleksi, yakni atas kesadaran. Sadar menjadi manusia berarti menjadi “aku” yang mengatur dan menetapkan pikirannya dalam konteks sosial-historisnya atau dalam bentangan waktuyang lalu, kini, dan yang akan datang.
o   Kritisisme Filsafat Bahasa Biasa
Aliran Filsafat Bahasa Biasa berprinsip bahwa kehidupan sehari-hari yang bersifat kompleks ini berimplikasi pada penggunaan bahasa untuk berbagai tujuan.

  •           Sikap Ilmiah yang Komunikatif
Penulisan artikel dengan bahasa yang tidak ruwet dan melompat-lompat dan disajikan secara komunikatif dengan susunan kalimat yang pola pikirnya jelas ujung pangkalnya.

  •     Tindak Tutur Dalam Penulisan
Gaya tutur, niatan, dan tanggung jawab si penutur dalam hubungan dengan topik pembicaraan ini dapat disebut sebagai tindak tutur penulisan. Yakni tindak bahasa yang berperan ketika seseorang mengungkapkan ungkapan-ungkapan bahasanya agar karya tulis ilmiah itu jelas dan efektif.

  •          Tidak Sekadar  “Common Sense
Common sense itu merupakan pikiran biasa atau pikiran orang awam dan kita seringkali memahaminya dengan mudah.  Tetapi tidak jelas arah argumen atau teorinya.

  •          Penalaran dan Kekeliruan Nalar
Logis, rasional, dan kekeliruan nalar dibedakan maknanya berdasarkan proses dan dampaknya. Bertalian dengan aktivitas menulis karya tulis ilmiah, kemampuan berlogika diartikan sebagai cara berpikir illmiah atau jalan pemikiran yang ilmiah. Karena pada dasarnya pembaca tidak mau direpotkan dengan ungkapan-ungkapan yang memusingkan.


Semoga bermanfa'at yaaa :)

Daftar Pustaka

  1. Wibowo, Wahyu. 2011. Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah. Jakarta: Kompas.
  2. Ridho, Irsyad. 2011. Teori Sastra. Jakarta: Buku Materi Ajar, Universitas Negeri Jakarta  (belum diterbitkan).

Comments

Popular posts from this blog

TAKARIR ATAU CAPTION?

Halo, perkenalkan nama saya Labibah, tapi saya lebih akrab dengan sapaan Bibeh. Saya suka menulis dan membaca dan kebetulan juga saya berprofesi sebagai pendidik. Saya lebih senang disebut pendidik karena mendidik itu lebih dari sekadar mengajar. Di sini, saya akan menyampaikan sedikit materi tentang penulisan takarir. Hmm takarir? Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu takarir? Takarir ada tulisan penjelasan. Bisa berupa penjelasan arti dari percakapan sepanjang film asing ( subtitle ) atau penjelasan tulisan mengenai gambar ( caption ) yang disebut dengan takarir gambar. Baik takarir ataupun takarir gambar sudah ada definisinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru yaitu edisi ke-V seperti yang ada pada gambar berikut, Belum punya KBBI, ya? Unduh dulu, yuk! Ini aplikasi resmi dari Pusat Pengembangan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan. Ti...

Pulang

Seringkali terpikirkan dalam benak ini kepada orang-orang yang dengan mudahnya menemukan pasangan dalam hidupnya, entah dengan unsur kesengajaan ataupun atas skenario tuhan. Ingin berteriak tuhan tak adil rasanya sangat lebih tak adil mengingat apa yang selama ini kita dapatkan melebihi apa yang orang lain belum dapatkan. Sudah seberusaha mungkin diri ini menjatuhi cinta pada siapapun yang coba mendekat, namun nihil. Entah apa yang telah menggerayangi tubuh ini. Aku lebih menikmati kesendirian atau mungkin memaksakan diri dalam kenyamanan yang telah kukenakan. Pernah kucoba, tapi kandas begitu saja, entah ada unsur kecemburuan tuhan atau memang mereka   datang hanya sebagai sebuah pembelajaran dengan ujian akhir yang lebih dan selalu sulit daripada latihan-latihan soal di sekolah. Pernah kehilangan sesuatu yang bodoh karena hal yang bodoh, dan dengan bodohnya, aku masih saja menyesali kebodohanku. Sungguh bodoh, bukan? Pemilih? Sepertinya yang terlihat memang seperti ...

mau bersua sebentar

udah lama ya gak ngepost di blog.. kali ini ogut mau nge-share tentang "Lajang? Kenapa Malu?" Mungkin bagi sebagian orang ga tahan untuk berlama-lama menjomblo. Gini aja deh, kalo pacaran kan juga capek sendiri. Kenapa? Karena cuma nambahin beban pikiran aja.  pacaran atau single ya sama aja sih menurut ogut. lah iya, sama-sama belum dsahkan oleh negara dan agama menjadi pasangan yang halal. Ah ribet.. intinya ya sama-sama belum nikah (X_X). gitu. udah ya cukup sampai di sini. Nantikan postingan selanjutnya :p