Oleh: Labibah Musfiroh
Coba baca terlebih dahulu esai “Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir?” oleh Ajip Rosidi dan esai “Perintis Sastra Indonesia Modern” oleh Maman Mahayana.
Setelah itu, maka pertanyaan-pertanyaan mengenai Ajip Rosidi sebagai berikut:
Setelah itu, maka pertanyaan-pertanyaan mengenai Ajip Rosidi sebagai berikut:
1. Apa masalah yang diangkat oleh Ajip Rosidi?
Masalah yang diangkat oleh Ajip adalah kekacauan para penelaah sastra Indonesia pada umumnya yang tidak disertai dengan argumen-argumen yang jelas.
2. Apa kesimpulannya?
Kesimpulannya adalah banyak para sarjana-sarjana asingyang tidak mengikuti perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia dari dalam, perubahan itu hanyalah perubahan nama mencakup sastranya pula. Lebih malang pula, karena para penelaah sastra kita yang darahnya 100% nasional dan keyakinan kebangsaannya tak usah diragukan itu, dalam mengahadapi hasil-hasil telaah para sarjana atas angin itu, tidak mampu mencernakannya dengan baik, melainkan secara mentah-mentah mengambil-alih pendapat orang tanpa kritis. Sehingga timbul permasalahan dari mana kesusastraan Indonesia berasal dan para penelaah itu menganggap kesusastraan Melayu sebagai awaln dari bahasa Indonesia.
3. Apa alasan yang dikemukakan untuk mendukung kesimpulan itu?
Alasan yang mendukung kesimpulan itu adalah bahasa Melayu yang dianggap sebagai asal mula dari bahasa Indonesia. Memang, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Tetapi bahasa Indonesia bukanlah bahasa Melayu, dalam arti bahasa Indonesia mempunyai pertumbuhan dan perkembangannya sendiri. Bahasa Melayu merupakan kesusastraan klasik daerah,sama halnya dengan kesusastraan klasik jawa, sunda, bali, dan daerah lainnya. Sebagai karya kesusastraan klasik, kesusatraan Melayu patut dipelajari oleh bangsa Indonesia. Tetapi kita mesti menempatkannya tidak dalam pelajaran kesusastraan bahasa Indonesia.
4. Karya sastra mana yang disingkirkan oleh argumen Ajip tersebut? Mana yang diakuinya?
Selanjutnya, setelah membaca esai Maman Mahayana dan pertanyaannya adalah sebagai berikut:
1. Apa masalah yang diangkat oleh Maman?
Masalah yang diungkap kan oleh Maman adalah Balai Pustaka bukan merupakan satu-satunya pangkal dari riwayat sastra Indonesia. Pengarang peranakan Tionghoa berperan juga terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia.
2. Apa kesimpulannya?
Kesimpulannya adalah kepengarangan Pustaka yang dibuat pada masa kolonial Belanda bukan merupakan satu-satunya sumber penerbitan karya sastra. Kepengarangan yang lain juga turut andil dalam peerintisan sastra Indonesia. Peranakan Tionghoa justru lebih berperan dan seharusnya itu diakui.
3. Apa alasan yang dikemukakan untuk mendukung kesimpulan itu?
Ada 5(lima) faktor yang dijabarkan dalam esai Maman untuk memperkuat alasan tersebut, yaitu:
-Pertama, timbulnya surat kabar yang memuat iklan dengan bahasa Melayu, jelas itu sangat penting bagi peranakan Tionghoa yang sebagian besar bekerja sebagai pedagang.
-Kedua, surat kabar yang menggunakan bahasa Melayu itu membuat peranakan Tionghoa membayar seseorang untuk menerjemahkan bahasa itu. Tidak sedikit pula yang memanggil seseorang yang mengerti bahasa Melayu untuk memberikan pelajaran tentang bahasa Melayu.
-Ketiga, Dibukanya sekolah-sekolah untuk golongan peranakan Tionghoa. Jumlah peranakan Tionghoa yang bersekolah, baik di sekolah Raja(Eropa), sekolah Cina, dan sekolah pribumi, jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak pribumi
-Keempat, pengubahan huruf Arab-Melayu ke dalam huruf latin
-Kelima, penggunaan bahasa Mealyu oleh para peranakan Tionghoa membuat mereka haus akan cerita tentang leluhurnya. Maka ditanggapi oleh para penerbit untuk menerjemahkan cerita-cerita asli Cina, pembacanya pun banyak dibandingkan oleh kelompok pembaca pribumi maupun juga Belanda.
4. Di mana letak perbedaan argumen Ajip dan Maman?
Perbedaan dari argumen kedua sastrawan ini adalah tokoh atau perintis dari kesusastraan itu sendiri. Di sini Ajip lebih menjelaskan para penelaah kesusastaan Indonesia, yang menurut Ajip bahasa Indonesia bukan berasal dari bahasa Melayu, dan para penelaah pribumi pun menerima pendapat para sarjana-sarjana asing dengan mentah dan tanpa dicernakan terlebih dahulu. Sedangakan Maman berpendapat lain dengan Ajip, ia lebih menjelaskan bahwa kaum Tionghoa lah yang berperan lebih besar dibanding bangsa pribumi dalam perintis perkembangan bahasa Indonesia. Hal tersebut terlihat dari beberapa faktor yang ia jelaskan seperti di atas. Ajip merasa bukan hanya Balai Pustaka yang paling berpengaruh dalam penerbitan kepengarangan sastra Indonesia.
Comments
Post a Comment