Skip to main content

Posts

TAKARIR ATAU CAPTION?

Halo, perkenalkan nama saya Labibah, tapi saya lebih akrab dengan sapaan Bibeh. Saya suka menulis dan membaca dan kebetulan juga saya berprofesi sebagai pendidik. Saya lebih senang disebut pendidik karena mendidik itu lebih dari sekadar mengajar. Di sini, saya akan menyampaikan sedikit materi tentang penulisan takarir. Hmm takarir? Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu takarir? Takarir ada tulisan penjelasan. Bisa berupa penjelasan arti dari percakapan sepanjang film asing ( subtitle ) atau penjelasan tulisan mengenai gambar ( caption ) yang disebut dengan takarir gambar. Baik takarir ataupun takarir gambar sudah ada definisinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru yaitu edisi ke-V seperti yang ada pada gambar berikut, Belum punya KBBI, ya? Unduh dulu, yuk! Ini aplikasi resmi dari Pusat Pengembangan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan. Ti...
Recent posts

Erotisme Emosi

PROLOG Orang-orang menganggap aku gila, halu, atau mungkin terkesan hanya ingin diperhatikan. Mereka yang mencoba mendekat perlahan menjauh ketika tak sanggup untuk bersetubuh dengan emosiku. Tak ada yang salah dan tak ada pula yang benar, hanya kenangan masa lalu yang selalu menusuk-nusuk jantungku ketika aku mencoba melupakannya. Walau hal itu takkan pernah enyah sampai kapanpun, dan memang hanya itu yang selalu setia menjadi sahabatku hingga kini. Tak ada yang sanggup selain kenangan itu. Dan memang hanya kenangan itu.     Baskoro memelukku dengan erat, berusaha meyakinkan semuanya baik-baik saja. ia (mungkin) satu-satunya insan yang mencoba untuk menyatu dengan segala emosi yang ada di tubuhku.       “ Everything gonna be okay, honey ..” ia terus mengusap-usap rambutku, mencoba menenangkanku dan membuatku semakin yakin bahwa dialah sosok yang aku buru selama ini. Ia membuatku sangat nyaman sampai aku berani menyerahkan apapun untukn...

Elusif

Badan bertubuh mungil itu kini tak selincah dulu, kian kemari kian pula terlihat sosok yang selalu dihantui rasa kantuk. Mukanya tak seberhias dulu, dulu.. yang penuh semangat dan ambisi untuk menyelesaikan segala masalah yang dihadapinya. Ada hal   yang telah mengubahnya secara signifikan, namun entah apa yang telah membuatnya itu. Pertanyaan elusif itu sungguh mengganggu pikiran orang-orang di sekitarnya. Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa kini sudah ada yang memberi corak pada hidupnya yang selalu polos itu? Teka teki itu merebak dan membuat siapa saja kesuliatan untuk memecahkannya. Sikapnya yang berubah dari periang hingga penyendiri, begitu pasrah dengan apa yang terjadi di depannya. Hampa.. Banyak spekulasi yang muncul terhadap dirinya. Lantas, apa ia peduli? Untuk sekadar menoleh saja dengan orang-orang yang berasumsi terhadapnya itu sudah merupakan prestasi. Sudah tak ada lagi yang dipedulikannya. Hidupnya hanya untuk sekadar menjalani hidup dan mencoba untuk m...

Pulang

Seringkali terpikirkan dalam benak ini kepada orang-orang yang dengan mudahnya menemukan pasangan dalam hidupnya, entah dengan unsur kesengajaan ataupun atas skenario tuhan. Ingin berteriak tuhan tak adil rasanya sangat lebih tak adil mengingat apa yang selama ini kita dapatkan melebihi apa yang orang lain belum dapatkan. Sudah seberusaha mungkin diri ini menjatuhi cinta pada siapapun yang coba mendekat, namun nihil. Entah apa yang telah menggerayangi tubuh ini. Aku lebih menikmati kesendirian atau mungkin memaksakan diri dalam kenyamanan yang telah kukenakan. Pernah kucoba, tapi kandas begitu saja, entah ada unsur kecemburuan tuhan atau memang mereka   datang hanya sebagai sebuah pembelajaran dengan ujian akhir yang lebih dan selalu sulit daripada latihan-latihan soal di sekolah. Pernah kehilangan sesuatu yang bodoh karena hal yang bodoh, dan dengan bodohnya, aku masih saja menyesali kebodohanku. Sungguh bodoh, bukan? Pemilih? Sepertinya yang terlihat memang seperti ...

Mengapa Harus Menjadi Guru?

Menjadi guru profesional dan ideal bukan perkara yang mudah. Butuh proses yang panjang dan tentunya telah melewati berbagai pengalaman dan cobaan yang seringkali membuat hidup merasa ingin menyerah. Mengapa saya katakan demikian? Apapun profesi itu pasti ada saja rintangannya sulitnya, tidak ada yang mudah, yang mudah hanya tersenyum J . Kalau yang mudah saja masih ada beberapa orang yang enggan melakukannya, lalu bagaimana dengan yang sulit? Butuh apresiasi terhadap hal itu. Walaupun tidak ada yang mengapresiasi, setidaknya diri kita sendiri lah yang memberi apresiasi. Kembali lagi kita bahas profesi guru, kita belum masuk ke ranah yang ‘ideal’. Zaman dahulu dengan zaman sekarang sangat berbeda. Dulu, banyak yang mencita-citakan ingin jadi guru. Sekarang sedikit sekali, bahkan di sekolah tempat saya mengajar, tidak ada satupun murid yang ingin jadi guru. Mengapa? Ada apa dengan guru sehingga sepi peminat seperti itu? Lalu mengapa saya menjadi guru? Apa terjebak? Hal ini ada kai...

Bolang ke Negeri Swasdee

Assalamualaikum, apa kabar?  Udah jalan-jalan belum? Kurangin lembur, seringin berlibur, jangan lupa tidur, dan makan yang teratur. Hehehe.  Kali ini, saya mau cerita. Ya namanya juga perempuan ya hobi cerita. Karena mau cerita ya bahasanya agak santai di luar penggunaan kaidah kebahasaan, gapapalah ya.  Akhirnya bisa melepas penat jalan-jalan ke negeri gajah putih. Awalnya agak gak yakin bakal ke situ sih. Soalnya emang lagi hectic juga urusan kerjaan. Tapi, akhirnya jadi juga kalau disempet-sempetin. Pikiran juga lagi penat-penatnya, jadi pas banget lah untuk berlibur ke sana. Kenapa harus Thailand? Jawabannya sih simple . Gara-gara suka nonton film Thai. Mereka suka lucu sih kalau lagi ngomong. Mau marah, sedih, bahagia, ya keliatannya sama aja gitu, bikin ketawa aja dengernya. Dari segi karakteristik wajah juga ga beda jauh sama orang Indonesia. Siapa tau kalau lagi belanja dimurahin gitu kan? Hehehe. (dasar emak-emak, pikirannya belanja mulu). Dan yang pentin...