Menjadi guru
profesional dan ideal bukan perkara yang mudah. Butuh proses yang panjang dan
tentunya telah melewati berbagai pengalaman dan cobaan yang seringkali membuat
hidup merasa ingin menyerah. Mengapa saya katakan demikian? Apapun profesi itu pasti
ada saja rintangannya sulitnya, tidak ada yang mudah, yang mudah hanya
tersenyum J.
Kalau yang mudah saja masih ada beberapa orang yang enggan melakukannya, lalu
bagaimana dengan yang sulit? Butuh apresiasi terhadap hal itu. Walaupun tidak
ada yang mengapresiasi, setidaknya diri kita sendiri lah yang memberi
apresiasi.
Kembali lagi
kita bahas profesi guru, kita belum masuk ke ranah yang ‘ideal’. Zaman dahulu
dengan zaman sekarang sangat berbeda. Dulu, banyak yang mencita-citakan ingin
jadi guru. Sekarang sedikit sekali, bahkan di sekolah tempat saya mengajar,
tidak ada satupun murid yang ingin jadi guru. Mengapa? Ada apa dengan guru
sehingga sepi peminat seperti itu? Lalu mengapa saya menjadi guru? Apa
terjebak? Hal ini ada kaitannya dengan topik yang sedang saya bicarakan.
Kalau dilihat
secara materiel mungkin profesi guru tidak sebanding dengan profesi-profesi
lainnya seperti dokter, insinyur, dll. Ditambah lagi dengan perkembangan zaman
dan teknologi yang begitu melejit yang menciptakan lapangan pekerjaan baru, tak
sedikit lapangan pekerjaan lama pun tidak eksis lagi bahkan punah ditelan
zaman. Namun, guru tetaplah guru, sampai kapanpun akan selalu dibutuhkan. Tidak
hanya guru di lembaga formal atau pun informal, guru dalam kehidupan
sehari-hari juga selalu menemati tiap langkah perkembangan hidup kita.
Di sini saya
akan membatasi bahasan saya hanya pada profesi guru, kalau pun profesi lain
seperti ini dan seperti itu, ya itu di luar pembahasan. Percaya atau tidak,
saya pernah bercita-cita untuk menjadi guru. Itu dulu waktu saya duduk di
bangku Sekolah Dasar (SD). Namun ketika SMA, saya telah melupakannya. Hal itu
dimulai ketika saya menduduki bangku perkuliahan. Beberapa teman satu jurusan
di kampus memang lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Ketika ditanya
kenapa pilih jurusan ini, mereka menjawab sederhana. Karena perempuan cocoknya
jadi guru. Hal itu membuat guru menjadi feminisme, padahal laki-laki sangat sah
untuk menjadi guru juga.
Walau begitu
tetap perlu dipresiasi siapapun di muka bumi ini yang ingin menjadi guru
khususnya di Indonesia. Bagi saya, memulai karier menjadi guru memang butuh
proses agar mantap menjejaki diri di atas otak-otak calon penerus bangsa. Guru
terbagi menjadi dua, pengajar dan pendidik. Pengajar orang yang sekadar
mengajarkan atau menyampaikan suatu materi/ilmu kepada si penerima ilmu tersebut.
Ketika sudah disampaikan, ya sudah selesai sampai di situ. Beda halnya dengan
pendidik, ada beban morel yang harus dijalankannya. Entah sampai kapan dan itu
selama dibutuhkan atau mungkin tidak dibutuhkan lagi tapi tetap harus diberikan
peserta didik. Selain itu pendidik tidak hanya bertanggung jawab dalam segi
akademis saja, dari segi non akademis pun juga menjadi hal yang harus
diperhatikan. Tergantung kita sebagai guru mau memilih yang mana.
Profesional
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bersangkutan dengan profesi
dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Guru pun juga seperti
itu, harus berkompeten untuk disebut sebagai guru yang profesional. Ada pendididkan,
pelatihan, dan kompetensi yang harus dilalui. Hal itu tidak
hanya terkait materi atau teori yang didapat, tetapi juga praktik lapangan dan
pengalaman yang telah dilalui terkait dengan profesi yang sedang ia tekuni. Memiliki
tujuan dalam setiap profesi yang digelutinya. Tujuan ini tidak melulu terkait
matriel. Tujuan kehidupan yang lebih baik dan mencerdaskan kehidupan bangsa
yang terdapat dalam UUD 1945 juga merupakan hal yang benar-benar harus
diwujudkan.
Guru yang
profesional guru mengetahui bagaimana ia harus memperlakukan murid-muridnya.
Karena karakter setiap anak berbeda. Hal ini tidak menutup kemungkinan seorang
guru yang profesional mempelajari bidang ilmu lain seperti psikologi anak atau
remaja. Ketika seorang guru sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter
murid. Ia akan dengan mudah memberikan ilmu dan mendidik si anak. Dengan demikian
seorang guru yang menjalankan kewajiban dan mempunyai tujuan disebut guru
profesional dan ideal. Begitu mulianya tugas seorang guru. Satu hal yang
terpenting yang perlu diingat, apa tujuan kita diciptakan ke bumi ini? Untuk
beribadah kepada Allah SWT. Beribadah tidak hanya menjalankan rukun islam, ada
banyak halyang bisa disebut ibadah. Maknanya begitu luas. Bekerja juga termasuk
salah satu dari ibadah. Beribadahlah dengan baik, mengharap ridho-Nya, ihklas,
insya Allah menjadi jihad.
Beberapa data
di atas mungkin tidak valid karena saya hanya menanyakan ke sebagian orang dan
tidak ada penelitian khusus tentang itu. Tulisan ini murni dari pemikiran saya
sendiri. Jika memang terdapat perbedaan pendapa ya tidak mengapa. Kita sebagai
makhluk ciptaan Allah memang diciptakan unik dan berbeda. Namun bukan untuk
mengelompokkan diri, melaikan untuk saling berbagi satu sama lain. Jzk.

Halo ibu guru apa kabar
ReplyDelete