PROLOG Orang-orang menganggap aku gila, halu, atau mungkin terkesan hanya ingin diperhatikan. Mereka yang mencoba mendekat perlahan menjauh ketika tak sanggup untuk bersetubuh dengan emosiku. Tak ada yang salah dan tak ada pula yang benar, hanya kenangan masa lalu yang selalu menusuk-nusuk jantungku ketika aku mencoba melupakannya. Walau hal itu takkan pernah enyah sampai kapanpun, dan memang hanya itu yang selalu setia menjadi sahabatku hingga kini. Tak ada yang sanggup selain kenangan itu. Dan memang hanya kenangan itu. Baskoro memelukku dengan erat, berusaha meyakinkan semuanya baik-baik saja. ia (mungkin) satu-satunya insan yang mencoba untuk menyatu dengan segala emosi yang ada di tubuhku. “ Everything gonna be okay, honey ..” ia terus mengusap-usap rambutku, mencoba menenangkanku dan membuatku semakin yakin bahwa dialah sosok yang aku buru selama ini. Ia membuatku sangat nyaman sampai aku berani menyerahkan apapun untukn...