Sebuah cerpen yang Fiksi!
Baca dan simpulkan sendiri maknanya :)
Oleh: Labibah Musfiroh
Ada sebuah kalimat yang selalu aku dengar dari Pamanku yang tak akan pernah kulupakan. “Shemi, teman itu ada masanya. Gak selalu kamu dekat terus sama sahabatmu yang sekarang,” aku selalu membayangkan Paman berbicara seperti itu ketika kulihat gambarnya pada foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Pamanku memang sudah menghadap Tuhan lebih dulu. Aku rindu sekali dengannya. Kini aku tak tahu pada siapa aku bercerita tentang apa yang aku alami saat ini. Ibuku sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sedangkan Ayahku entah berada dimana keberadaanya sekarang. Sahabatku yang dahulu dekat dengannku kini aku tidak tahu kabarnya. Ingin menangis tapi aku selalu menahannya. Karena aku bingung harus menangis di bahu siapa? Entah, aku hanya bisa menceritakan kepada Tuhan apa yang sedang aku rasakan. Hanya dialah yang selalu ku jadikan tempat curhatku. Sahabatku Rosa kini sudah menganggapku orang lain. Sebelumnya aku memang pernah dekat dengannya, sangat dekat sudah seperti saudara bagiku. Hari-hari ku penuh dengannya. Sampai akhirnya dia mengenalkanku pada saudara sepupu laki-lakinya. Faris namanya, orangnya kurus dan agak tinggi, wajahnya sangat manis bahkan ketika sesekali iya tersenyum. Dia orangnya ramah dan humoris.
“Oh iya Shem, ini kenalin sepupu gue, Faris namanya. Dia semester ke-empat di jurusan Sastra Jepang,” Rosa memperkenalkan Faris padaku.
“Faris,” Faris memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar padaku. Aku membalas kata-katanya dengan menyebutkan namaku sambil membalas senyum manisnya itu. Sejak saat itu aku dan Faris selalu berkomunikasi dan sering bermain bersama Rosa juga tentunya. Setelah beberapa bulan aku mengenal Faris, akhirnya Faris menyatakan cinta dan meminta agar aku menjadi pacarnya. Sebelum aku menjawab permintaan Faris, aku menanyakan hal ini kepada sahabatku Rosa.
“Ros, sepupu lo nembak gue nih. Gue jawab apa? Bingung deh gue,” ucapku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hah? Serius Shem? Hahaha.. kok dia gak bilang-bilang dulu ya sebelumnya sama gue? Hmmm.. kalo lo ada rasa ama sodara gue itu apa salahnya kalo lo jalanin dulu, kita kan gak tau kedepannya bakal kaya apa. Ya kan?” Rosa memberi saran.
“Iya sih Ros, gue juga kayaknya ada feeling sama Faris,” jawabku sambil tersenyum. Akhirnya aku pun menerima Faris menjadi kekasihku. Jujur, aku baru pertama kali berpacaran. Aku belum pernah berpacaran dan memang belum terbayangkan sebelumnya. Kini di usiaku yang ke 17 tepatnya disaat aku kelas 3 SMA, aku jadian dengan anak Sastra Jepang semester ke-empat itu. Aku memang belum merasakan cinta dan baru hanya tertarik padanya. Namun, lama-kelamaan aku merasakan hal yang memang aku belum pernah rasakan sebelumnya. Mungkin orang-orang menyebut itu dengan “cinta”.
Rasa cintaku pada Faris telah membuatku berfikir bahwa hanya dialah yang ada di pikiranku. Walaupun aku tahu, sepertinya Faris hanya memanfaatku saja, dia selalu menyuruhku ini itu. Tapi aku tak perduli, aku menganggapnya berarti dia butuh aku. Waktuku selalu untuknya sampai akhirnya aku masuk kuliah dan satu Perguruan Tinggi dengannya namun berbeda jurusan. Aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Kesibukanku dengan Faris membuat Rosa sadar bahwa aku telah jarang bermain bersamanya. Rosa pun membuat berita yang tidak-tidak tentang diriku kepada teman-temanku yang lain. Kebetulan Rosa juga masuk Perguruan Tinggi dan jurusan yang sama denganku. Teman-temanku mulai bersikap tak biasa padaku. Kini aku pun perang dingin dengan Rosa. Aku ingin bertanya dan ingin menjelaskan semua padanya. Namun mengapa itu sulit sekali aku lakukan. Seakan-akan tak pernah ada kesempatan itu.
Setiap kali aku berpapasan dengan Rosa, ia selalu berucap “Kacang lupa pada kulitnya!” Aku berpikir, kenapa denganku? Apa aku seperti kacang yang lupa pada kulitnya? Akupun berpikir bahwa kacang tidak pernah lupa pada kulitnya. Kacang hanyalah sebagi korban. Dia dipaksa dipisahkan oleh kulitnya, kacangpun lenyap habis dimakan. Sedangkan kulitnya hanya dibuang dan tidak dihancurkan seperti halnya kacang. Kulit kacang hanya berpikir bahwa dia ditinggalkan begitu saja oleh sang kacang tanpa pamit, dia tidak tahu betapa menderitanya ia dibandingkan dengannya. Begitu pula dengan diriku. Kesalahpahaman Rosa membuat aku dan dirinya tak bersama lagi seperti dahulu. Kesedihanku ditambah lagi dengan perginya Faris dari kehidupanku. Dia ternyata sudah tertarik dengan wanita lain dan memutuskan untuk bertunangan dengan wanita barunya itu. Aku tak tahu bahwa ternyata Faris sudah lama bermain api dibelakangku. Padahal aku telah tulus mencintainya. Tapi ia membalasnya dengan itu. Nasi telah menjadi bubur. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintaiku ketika ia sudah punya cinta yang lain. Selain itu, Rosa menganggapku telah melupakannya ketika ia sudah berbaik hati padaku. Padahal, aku ingin dia tahu betapaku tak mau kehilangannya. Kini aku benar-benar seperti kacang, tetapi yang tidak pernah lupa pada kulitnya.
jempol mbak !!!
ReplyDeletekak bibah cerpennya bagus!
ReplyDeletemakasih yaaaa :)
ReplyDelete