Lagi-Lagi Pamali
Cerpen fiksi
Oleh: Labibah Musfiroh
Aku
sering mendengar nasihat-nasihat dari orang tuaku tentang pantangan dan
larangan-larangan. Seperti suatu hal yang harus dihindari dan merupakan
pantangan yang jika dilanggar akan berdampak buruk. Itupun sudah menjadi
kepercayaan turun-temurun dari sebagian masyarakat. Contoh ketika aku baru saja
pulang sekolah, aku langsung pergi ke dapur untuk makan siang dan membuka pintu
untuk mendapatkan udara segar dari samping halaman kebun rumahku. Aku pun duduk
di dekat pintu seraya ibuku datang menghampiriku.
“Kalau
makan jangan di depan pintu Nisa! Pamali, nanti jodohnya susah!” Ibu menasihatiku
dan Aku pun langsung pindah ke dekat TV, tempat yang menurutku adalah tempat
yang lebih baik dai sebelumnya. Tentu saja keberadaan TV membuat konsentrasiku
terbagi antara makan dan menonton TV. Tiba-tiba ibu mengampiriku kembali dan
memberikanku nasihatnya lagi.
“Haduh.. Nisa, kalo anak perempuan
makannya jangan lama-lama! Itu pamali! Kamu tuh lelet banget makannya. Oh iya
sekalian cucian piring di belakang dicuci semua ya. Ibu mau ada arisan.”
Nasehat ibuku yang mengiringi kepergiannya meninggalkanku untuk pergi bersama
teman-temannya. Aku kesal, mengapa apa yang aku lakukan selalu salah? Selesai makan,
aku pergi ke teras rumah yang kebetulan ada ayahku yang sedang membaca koran.
Aku cemberut dan ayah pun sadar kalau aku sedang ada masalah.
“Kenapa kamu nis? Kok cemberut gitu
sih nak? Cerita dong sama Ayah.” Ayah mendekatiku seraya berhenti membaca koran
dan meletakannya di meja.
“Aku sebel sama Ibu, dikit-dikit
pamali. Dikit-dikit pamali. Pusing nisa dengernya.” ayah menggaruk-garuk
kepalanya karena kurang paham apa maksud dari ucapanku.
“Loh loh, kaya apa contohnya?” ayah
lebih mendekatkan dirinya kepadaku. Emosiku tersalurkan dengan menceritakan
semuanya kepada ayah. Kadang aku berpikir apa maksud dari nasihat-nasihat itu?
Mengapa itu menjadi sebuah keyakinan yang melekat dan menjadi tradisi turun
menurun? Ayah menjelaskan semuanya kepadaku tentang nasihat-nasihat orangtua
pada zaman dahulu, sehingga aku menangkap pesan-pesan yang disampaikan dalam
nasihat-nasihat yang dianggap pamali itu. Ya, pasti ada alasan di setiap
nasihat-nasihat itu. Seperti jangan makan di depan pintu, nanti katanya susah
jodoh. Kalau aku pikir-pikir itu hanya cara yang dilakukan oleh orang tua jaman
dahulu untuk menasihati anak-anak mereka. Padahal tujuannya baik agar orang
yang ingin lewat pintu tidak terhalang oleh orang yang sedang makan di dekat
pintu. Iya kan? Kalau yang anak perempuan jangan lama-lama makannya, itu makna
tersiratnya adalah agar cucian piring segera dicuci dan dibereskan agar rapi.
Ibuku pulang dari tempat arisan pada
pukul 08.00 malam dan memergokiku sedang menggunting kuku di ruang keluarga
yang menurutku tempat yang paling nyaman karena terdapat TV sebagai hiburan.
“Ya ampun Nisaaaaaa! Kamu ngapain
malam-malam gini gunting kuku? Gak baik ih, pamali! Sini gunting kukunya. Kalo
malam-malam kamu gunting kuku nanti ada yang ngikutin looh! Ihh serem kan?” aku
tidak bisa berbuat apa-apa setelah dibuat kaget olehnya dan diambilnya guntung
kuku itu dari tanganku. Aku pun mulai bingung dan bertanya-tanya pada diri
sendiri “Apa maksud orangtua zaman dahulu tentang larangan-larangan itu?”
“Assalamu’alaikum,” tiba-tiba datang
dari arah pintu depan lelaki lajang yang sedang kelelahan dan kemudian duduk di
sebelahku. Ekspresi wajahku terlihat jelas bahwa aku sedang sangat kesal. Tentu
saja hal ini mengundang perhatian abangku itu.
“Hey adikku yang cantik, kenapa itu
mulut kamu monyong? Abis gadoin cabe rawit ya? Ahahaha,” ledeknya sambil
berusaha menghibur adiknya yang memang sedang kesal itu.
“Iya bang, aku kesel banget sama
Ibu. Aku gini, gak boleh. Aku gitu, gak boleh juga. Pamali mulu. Gunting kuku
malam-malam aja sampe dibilang pamali juga! Uuuuh,” dengan penuh emosi aku
menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu, abangku hanya tertawa dan menepuk-nepukkan
punggungku. Dia menjelaskan dengan singkat kalau menggunting kuku malam-malam
sebenarnya ada maksud baiknya, yaitu agar tidak salah gunting dan tidak ada
yang terluka. Karena pada malam hari itu gelap. Kalau seperti itu maksudnya,
mengapa orangtua zaman dulu sering mendoktrin anak-anak mereka dengan hal-hal
yang menakutkan? Iya, mungkin anak-anak zaman dahulu lebih takut jika
dinasihati seperti itu. Mungkin dengan jalan seperti itu merupakan cara yang
efektif agar mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Namun setelah aku
pikir-pikir, cara itu efektif dan ada manfaatnya juga. Memikirkan itu semua
membuatku mengantuk dan tertidur lelap diatas kasur empuk bermotif polkadot
yang berada di kamar mungilku.
Pagi datang dan tiba-tiba ada seorang
wanita paruh baya yang dengan sergap membuka jendela kamarku. Sinar matahari pada
pukul 08.00 yang masuk ke se-antero ruangan kamar kecilku membuatku terbangun dari
tidur lelap semalaman. Masih dengan keadaan setengah sadar dan mata yang tak
kuat untuk membuka dan melihat siapa yang telah membuatku terganggu.
“Bangun Nisaa! Udah siang gini masih
aja kamu di kasur, itu tuh pa..,” belum selesai Ibuku berbicara,
dengan sergap aku melanjutkan ucapan Ibu.
“Mali? Nanti
rejekinya dipatok ayam? Iya iya, Nisa bangun nih. Mau langsung mandi,” Ibu
melihatku dengan tatapan ke-Ibuannya seraya meninggalkan kamarku dengan senyum
manisnya.
Comments
Post a Comment