Skip to main content

Masalah Dewasamu


Alhamdulillah, terus berkurangnya umur kini saya merasakan ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebelumnya enggan menyelimuti sanubari. Menikmati pekerjaan dan menjalin hubungan yang baik kepada sesama ternyata dapat mengubah hidup begitu nikmatnya. Semakin ke sini, semakin banyak masalah yang menghampiri atau bahkan sekadar menumpang singgah lalu kemudian pamit pergi. Malas untuk dipertahankan, bahkan ketika pergi tak seharusnya disesali. Yup, itulah masalah. Sesuka hati menemani manusia yang kesepian. Manusia mana yang hidupnya tanpa masalah?
Dewasa itu bukan dari segi umur, namun dari bagaimana ia menghadapi sebuah masalah. Apakah ia cenderung menutupi atau bahkan menyelesaikannya dengan segera atau lambat. Cara menyelesaikannya pun juga akan menunjukkan apakah seseorang benar-benar sudah dewasa. Bagaimana ia berkomunikasi setidaknya juga dapat menjadi salah satu indikator seseorang dikatakan sudah dewasa.
Ketika hidup dirasa sangat berat dan terasa begitu dimanfaatkan oleh orang lain baik atasan atau rekan-rekan bahkan keluarga, ingatlah bahwa sejatinya manusia adalah yang bermafaat bagi orang lain dan lingkungannya. Entah mengapa, ketika saya betul-betul memahami kalimat tersebut saya merasa senang dapat menolong orang lain. Saya merasa benar-benar jadi manusia seutuhnya. Bahkan pernah suatu saat ada salah seorang teman saya berkata kepada saya untuk tidak terlalu baik dengan orang lain karena nanti malah dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Saya hanya bisa meng-iya-kan namun saya tetap mau bermanfaat untuk orang lain dalam hal postif tentunya. Di jalan kebaikan dan di jalan yang di ridhai oleh Allah.
Saya anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Tentunya banyak plus-minus-nya. Tapi saya tidak mau melihat yang ’minus’nya. Saya terus menikmati yang ‘plus’nya, dari yang terlalu dijaga ketat oleh orangtua dan dimanja juga tentunya oleh mereka. Terlebih saudara kandung saya yang lelaki semua. Senangnya dalam hati ada yang mengantar-jemput dan menjaga saya. Saya tidak membutuhkan pacar, sosok yang sering disebut-sebut sebagai tokoh penting dalam remaja ke atas. Status pacar itu tidak jelas menurut saya. Bukan apa-apa tapi malah seperti apa-apa. Dosa iya dan dibenci Allah juga iya. Mau bertanggung jawab, tetapi masih milik orangtuanya. Serba abstrak dan hanya membuat kesenangan sesaat yang ujung-ujungnya perpisahan dan penyesalan yang membekas. Tidak pernah ada jaminan sebuah hubungan pacaran dapat berlanjut ke jenjang pernikahan. Wallaua’lam
Terlihat dari hubungan kedua orangtua saya yang terbilang memiliki perbedaan umur yang cukup jauh, yakni 12 tahun. Ayah saya yang usianya kala itu 30 tahun menikahi ibu saya yang usianya baru menginjak 18 tahun. Tidak ada pacaran dan taaruf. Ketika ayah saya melihat ibu saya dari kejauhan, ayah saya langsung terpikat hatinya. Belum ada seminggu langsung membawa keluarga dan melamar ibu. Memang, awalnya ibu saya menolak karena tidak kenal. Namun kakek dan nenek (dari ibu) sudah setuju melihat dari kematangan ayah saya. Akhirnya pernikahan terjadi. Kini orangtua saya dikaruniai 4 anak yang insya Allah terus membanggakan bagi orangtua.
Tentu kejadian itu merupakan keadilan yang telah Allah janjikan pada surah An-nur ayat 26 yang intinya mengatakan laki-laki baik untuk wanita baik. untuk apa takut jika tidak pacaran? Bukankah pacaran hanya menjaga jodoh orang? Tidakkah lelah hati itu hanya untuk permainan? Hidup sangat singkat, hari silih berganti begitu cepat. Tidak sadar manusia terlena akan kenikmatan dunia yang sesaat. Jika memang dulu pernah merasakan sakitnya sebuah pengkhianatan atas nama cinta yang salah, tidak perlu ada lagi yang disesali. Semua sudah berubah tidak akan pernah kembali seperti sediakala. Kalaupun bisa rasa itu takkan pernah lagi sama. Hal yang terpenting adalah keinginan untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik.
Kedewasaan bukan hanya pintar beretorika atau pintar mengatur dengan presepsi yang hanya dipahami diri sendiri. Menghargai perbedaan pendapat juga salah satu hal yang dapat dikatakan sebagai indikator seseorang dikatakan masuk ke dalam fase dewasa.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

TAKARIR ATAU CAPTION?

Halo, perkenalkan nama saya Labibah, tapi saya lebih akrab dengan sapaan Bibeh. Saya suka menulis dan membaca dan kebetulan juga saya berprofesi sebagai pendidik. Saya lebih senang disebut pendidik karena mendidik itu lebih dari sekadar mengajar. Di sini, saya akan menyampaikan sedikit materi tentang penulisan takarir. Hmm takarir? Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu takarir? Takarir ada tulisan penjelasan. Bisa berupa penjelasan arti dari percakapan sepanjang film asing ( subtitle ) atau penjelasan tulisan mengenai gambar ( caption ) yang disebut dengan takarir gambar. Baik takarir ataupun takarir gambar sudah ada definisinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru yaitu edisi ke-V seperti yang ada pada gambar berikut, Belum punya KBBI, ya? Unduh dulu, yuk! Ini aplikasi resmi dari Pusat Pengembangan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan. Ti...

Pulang

Seringkali terpikirkan dalam benak ini kepada orang-orang yang dengan mudahnya menemukan pasangan dalam hidupnya, entah dengan unsur kesengajaan ataupun atas skenario tuhan. Ingin berteriak tuhan tak adil rasanya sangat lebih tak adil mengingat apa yang selama ini kita dapatkan melebihi apa yang orang lain belum dapatkan. Sudah seberusaha mungkin diri ini menjatuhi cinta pada siapapun yang coba mendekat, namun nihil. Entah apa yang telah menggerayangi tubuh ini. Aku lebih menikmati kesendirian atau mungkin memaksakan diri dalam kenyamanan yang telah kukenakan. Pernah kucoba, tapi kandas begitu saja, entah ada unsur kecemburuan tuhan atau memang mereka   datang hanya sebagai sebuah pembelajaran dengan ujian akhir yang lebih dan selalu sulit daripada latihan-latihan soal di sekolah. Pernah kehilangan sesuatu yang bodoh karena hal yang bodoh, dan dengan bodohnya, aku masih saja menyesali kebodohanku. Sungguh bodoh, bukan? Pemilih? Sepertinya yang terlihat memang seperti ...

mau bersua sebentar

udah lama ya gak ngepost di blog.. kali ini ogut mau nge-share tentang "Lajang? Kenapa Malu?" Mungkin bagi sebagian orang ga tahan untuk berlama-lama menjomblo. Gini aja deh, kalo pacaran kan juga capek sendiri. Kenapa? Karena cuma nambahin beban pikiran aja.  pacaran atau single ya sama aja sih menurut ogut. lah iya, sama-sama belum dsahkan oleh negara dan agama menjadi pasangan yang halal. Ah ribet.. intinya ya sama-sama belum nikah (X_X). gitu. udah ya cukup sampai di sini. Nantikan postingan selanjutnya :p