Tak pernah terbayang sebelumnya, sebuah cinta yang begitu indahnya lenyap dalam sekejap.
Cinta yang salah sudah menusuk masuk ke dalam relung hati yang segar. Kini memudar dan terasa hambar.
Tidak seharusnya cinta ini salah sasaran. Bukan ke makhluk-Nya, melainkan ke sang Khalik.
Kita bertemu untuk berpisah. Pasti berpisah dan tidak mungkin tidak.
Entah pisah karena hati yang dibolak-balikkan oleh-Nya ataupun dengan maut yang memaksa kita tidak bisa lagi berinteraksi secara verbal dan sampai di sana kau kekal.
Waktu yang kita habiskan bukanlah untuk hal yang sia-sia. Tak pernah sedikitpun diri ini menyesal pernah menghabiskannya bersama siapa saja yang merelakan waktunya.
Bukan penyesalan melainkan kesedihan pada perpisahan yang kau buat atas suruhan penciptamu.
Seharusnya diri ini sadar betapa mudahnya kaum adam mengumbar janji. Walau tak semuanya, namun diriku belum bertemu yang sesungguhnya luguh dan itu mungkin sulit tanpa kuasa-Nya..
Manusia pandai 'mengeles' dengan pernyataan yang bukan bohong bahkan bukan juga jujur.
Tak ada yang bisa kau percaya selain Allah yang maha membolak-balikkan hati hamba-Nya. Malu diri ini pernah salah menaruh cinta. Lebih baik raga dan jiwa ini kehilanganmu karena-Nya daripada kehilangan-Nya demi dirimu.
Terima kasih telah memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup.
Jangan kau sakiti lagi yang lain dengan ketampanan yang kau akui sendiri, ucapan yang kau puitisi sendiri, dan perbuatan yang kau gagahi sendiri.
Semoga kejujuran dan kesetiaan menghinggap dalam dirimu.
Aku masih menunggu kado terindahnya-Nya dan aku hanya berharap 'kado itu' jauh lebih baik dan diridhoi oleh-Nya.
Tak ada sandaran selain Allah karena cinta yang abadi hanyalah milik-Nya. Cukuplah kemarin diri ini membuat-Nya cemburu. Aku tak mau lagi. Karena penyakit paling membekas ialah sebuah pengkhianatan.
-LM-
Comments
Post a Comment