Skip to main content

Jatuh Cinta

Menjadi guru..
Awal di mana saya mulai mengetahui arti hidup, tak terbesit di pikiran kalau saya akan menjadi seorang guru.
Semua dimulai ketika saya duduk di bangku perkuliahan. Walau sudah menjadi mahasiswa calon guru, tetap saja belum ada keinginan untuk menjadi guru.
Hari berlalu, saya masih sibuk huru-hara mencari jati diri. Mau ke manakah sebenarnya saya?
Ketika memasuki semester akhir yang mewajibkan mahasiswa mengikuti Praktik Kuliah Mengajar. Yaa.. Saya harus mengajar.
Saya memulainya dengan penuh rasa gugup, takut, ingin menyerah sebelum memulai.
Hari-hari terlewati dengan penuh tantangan. Ide-ide kreatif untuk membangkitkan gairah siswa dalam belajar bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
Kali itu saya memegang dua kelas. Cukup membuat saya kaget. Satu saja saya rasa berat.
Namun, makin hari makin terbiasa.
Mulai mengenal nama anak-anak.
Ada hal yang saya senangi ketika mengajar, ketika saya dan murid-murid membuat kesepakatan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Kesepakatannya antara lain:
1) Di atas meja hanya ada benda yg berhubungan dengan Bahasa Indonesia
2) Jika ingin berbicara, izin ke toilet, menjawab pertanyaan, dll. Harus mengacungkan tangan. Kalau tidak, ya ga akan saya gubris. Hehehe
3) Kalau ada yang berisik atau menggagnggu selama pelajaran, siswa maju ke depan utk berdiri. Jika masih gaduh di depan, maka dikeluarkan dari kelas.
Seru, karena itu semua kesepakatan atas usul dari murid. Jadi mereka karus menaatinya.
Hari berlalu, sampai di mana saya selalu di jemput oleh beberapa siswa saat jam pelajaran Bahasa Indonesia mulai. Senang rasanya mendengar
"Ibuuuu, ayooo udah mulai nih Bahasa Indonesia" "Sini Bu, saya bawakan bukunya", dll.
Pokoknya menyenangkan. Ketika saya sakit, serentak murid-murid menuliskan pesan agar saya cepat sembuh. Mereka ingin segera diajar saya, tidak mau kalau diganti guru lain. Bahkan oleh guru asli mereka. Hehehe
Dari anak yang penurut sampai anak yang mbuandel, saya mendekatkan diri dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tapi alhamdulillah mereka anak-anak yang nurut dan membuat saya mulai mencintai profesi guru.
Sampai akhirnya 6 bulan berlalu, saya harus segera menyudahi PKM itu.
Beberapa murid perempuan memeluk dan meneteskan air mata..
"Ibu.. Tolong Bu ngajar di sini terus."
"Ibu.. Saya ga mau sekolah kalau bukan Ibu yang ngajar."
Sedih rasanya, baru kali ini saya merasakan disepertiinikan.
Ada murid yang memberi hadiah. Kerajinan tangan lucu buatan mereka, tulisan menarik di karton, bahkan surat pengantar kecil yang berisi kesan dan pesan..
Ya Allah.. Saya sedih nercampur bahagia.
Sedih harus berpisah dan tak mengajar mereka lagi dan bahagia karena banyak yang menyangi saya..
Mereka membuat saya jatuh cinta pada profesi ini. Profesi yang sebelumnya tak ada dibenak saya.
Skripsi berjalan lancar sampai akhirnya saya lulus dengan tepat waktu, ya.. 4 tahun. Sesuai target dan beasiswa saya selesai sampai di sini.
Gelar Sarjana Pendidikan sudah diraih, saya mulai mencari pekerjaan. Ya lagi-lagi saya mencari profesi NON-GURU. Mengapa???
Entah, rasanya saya masih penasaran dengan diri saya sendiri.
Sudah banyak lowongan dan interview yang saya lalui. Tak ada yang cocok dan tak ada saya jalankan.
Apa mungkin saya harus mencoba GURU?
Ya.. Saya mencoba, di salah satu sekolah swasta yang elit. Dengan proses seleksi yang agak ketat dan bertahap-tahap. Akhirnya saya lolos. Dan mulai mengajar. Siswa yang saya ajar tentu berbeda dari sekolah yang sebelumnya.
Beberapa murid dari sekolah sebelumnya mengirim pesan lewat jejarin sosial, sekedar menanyakan kabar dan menayakan saya sedang apa. Senang rasanya mereka tetap menganggap saya adalah guru mereka. Bukan mantan guru.
Suatu ketika ada sebuah pesan dari salah seorang murid.
"Ibu, apa kabar? Masih inget dengan saya, Bu?"
Namanya Abi, ambil mengingat-ngingat parasnya.
Hmmm.. Samar2 saya masih mengingatnya. Seingat saya anak ini duduk di pojok belakang.
"Iya, Ibu ingat. Bagaimana sekolahmu, Nak?"
"Abi kangen sama Ibu. Mau Ibu ajar lagi. Sekarang Ibu udah kerja ya? Di mana?
Greekkk.. Ada murid yang rupanya saja tidak begitu saya ingat dan dia kangen?
Terenyuh hati ini. Betapa bersyukurnya saya pernah berbagi ilmu dengan orang banyak.
Makinlah saya mencintai profesi ini.
Terlihat album kenangan dari SD sampai kuliah.
Saya membuka kembali album SD. Disampul kado kodok. Lucu. Namun, ketika dibuka foto-fotonya masih hitam putih. Maklum.. Potocopy-an
Saya membuka halaman biodata saya.
Terlihat jelas foto saya masih sangat kecil. Mata saya terpaku pada tulisan cita-cita.
Cita-cita:    Guru
Saya terdiam.
#LM

Comments

  1. "Sekolah swasta yang elit" 👌👌

    ReplyDelete
    Replies
    1. 👌👌 "tile gnay atsaws halokeS"

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

TAKARIR ATAU CAPTION?

Halo, perkenalkan nama saya Labibah, tapi saya lebih akrab dengan sapaan Bibeh. Saya suka menulis dan membaca dan kebetulan juga saya berprofesi sebagai pendidik. Saya lebih senang disebut pendidik karena mendidik itu lebih dari sekadar mengajar. Di sini, saya akan menyampaikan sedikit materi tentang penulisan takarir. Hmm takarir? Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu takarir? Takarir ada tulisan penjelasan. Bisa berupa penjelasan arti dari percakapan sepanjang film asing ( subtitle ) atau penjelasan tulisan mengenai gambar ( caption ) yang disebut dengan takarir gambar. Baik takarir ataupun takarir gambar sudah ada definisinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru yaitu edisi ke-V seperti yang ada pada gambar berikut, Belum punya KBBI, ya? Unduh dulu, yuk! Ini aplikasi resmi dari Pusat Pengembangan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan. Ti...

Pulang

Seringkali terpikirkan dalam benak ini kepada orang-orang yang dengan mudahnya menemukan pasangan dalam hidupnya, entah dengan unsur kesengajaan ataupun atas skenario tuhan. Ingin berteriak tuhan tak adil rasanya sangat lebih tak adil mengingat apa yang selama ini kita dapatkan melebihi apa yang orang lain belum dapatkan. Sudah seberusaha mungkin diri ini menjatuhi cinta pada siapapun yang coba mendekat, namun nihil. Entah apa yang telah menggerayangi tubuh ini. Aku lebih menikmati kesendirian atau mungkin memaksakan diri dalam kenyamanan yang telah kukenakan. Pernah kucoba, tapi kandas begitu saja, entah ada unsur kecemburuan tuhan atau memang mereka   datang hanya sebagai sebuah pembelajaran dengan ujian akhir yang lebih dan selalu sulit daripada latihan-latihan soal di sekolah. Pernah kehilangan sesuatu yang bodoh karena hal yang bodoh, dan dengan bodohnya, aku masih saja menyesali kebodohanku. Sungguh bodoh, bukan? Pemilih? Sepertinya yang terlihat memang seperti ...

mau bersua sebentar

udah lama ya gak ngepost di blog.. kali ini ogut mau nge-share tentang "Lajang? Kenapa Malu?" Mungkin bagi sebagian orang ga tahan untuk berlama-lama menjomblo. Gini aja deh, kalo pacaran kan juga capek sendiri. Kenapa? Karena cuma nambahin beban pikiran aja.  pacaran atau single ya sama aja sih menurut ogut. lah iya, sama-sama belum dsahkan oleh negara dan agama menjadi pasangan yang halal. Ah ribet.. intinya ya sama-sama belum nikah (X_X). gitu. udah ya cukup sampai di sini. Nantikan postingan selanjutnya :p