Skip to main content

Bersastra dalam Musikalisasi Puisi



Oleh: Labibah Musfiroh
Puisi merupakan sebuah wujud dari ekspresi jiwa yang dituangkan oleh pengarang ke dalam kata-kata. Proses pembuatan puisi terdapat makna yang dibuat oleh pengarang dengan imajinasi yang dimilikinya. Bahkan terkadang puisi yang dibuat oleh pengarang memiliki makna yang sulit dipahami. Mungkin hanya si pengarang saja yang mengerti maksud dari puisi yang dibuatnya. Hal ini menyebabkan puisi memaksa si pembaca megerti makna yang tersirat di dalamnya. Ada pula orang–orang yang mengartikan sebuah puisi dengan makna yang berbeda-beda, sesuai dengan pemahaman si pembaca atau pengkaji puisi.
Puisi juga merupakan suatu perwujudan dari karya sastra. Karena sastra mengandung arti indah. Begitu pula dengan puisi. Keduanya sangat berkaitan erat. Orang yang mengarang sebuah puisi, maka orang tersebut bisa dikatakan bahwa ia sedang bersastra. Siapa saja bisa melakukan kegiatan bersastra. Karena sastra itu keindahan dan seni yang diekspresikan si pengarang, maka seseorang bebas mengeskpresikan diri dan menuangkan apa yang ada di pikirannya. Tentu kebebasan di sini kebebasan yang bebas namu mempunyai kode etik yang harus dipatuhi agar selaras dengan kehidupan dan tidak menyalahi aturan. Karena biasanya pengarang sangat jelas dalam menuangkan ekspresi jiwa. Bahkan sampai tidak lulus sensor.
Pada zaman sastra murni tentu hal yang telah diuraikan tersebut bukanlah hal yang mengganjal dalam kehidupan. Seperti para seniman ada yang mencantumkan kata-kata ‘berani’. Berani yang dimaksudkan di sini adalah bebas sebebas-bebasnya. Seiring perkembangan zaman dari zaman sastra murni ke zaman sastra metropo kini terlihat jelas perubahan yang terjadi dalam karya sastra. Tentu kita bisa melihatnya dari karya-karya sastra yang muncul di pasaran, khusunya negara Indonesia. Keberadaan sastra murni kini mulai menurun dan yang terlihat jelas yakni sastra metropop atau yang sering disebut dengan sastra modern seperti teenlit. Di negara ini telah terjadinya krisis karakter seperti berubahnya pemikiran manusia di mana materi/akal/keduniaan di atas segala-galanya, hilangnya model kepribadian yang integral. Masih banyak lagi krisis yang terjadi. Di sini kita sebagai penerus harus bangkit dan berusaha untuk memperbaiki karakter bangsa ini.

Berbicara dengan sastra sama halnya dengan bebas berseni. Salah satunya dengan perwujudan dari hasil karya puisi. Puisi pada zaman sastra murni dengan zaman sastra metropop tentu terdapat perbedaan di antara keduanya jika di tela’ah lebih dalam. Namun dalam pengekspresiannya, puisi tetaplah puisi yang dibacakan sesuai dengan nilai-nilai puisi yang berlaku. Ada yang membacakan puisi di dalam hati, depan umum, dan bahkan ada yang hanya untuk dikaji apa makna yang terdapat di dalam sebuah puisi.
Ada hal yang lebih menarik dalam pengekspresian sebuah puisi yaitu musikalisasi puisi. Musikalisasi merupakan upaya menjadikan suatu hal ke dalam bentuk musik atau menjadi bentuk lagu. Jadi, musikalisasi puisi adalah menjadikan puisi sebagai lagu. Dalam hal ini tentu terdapat nada-nada seperti lagu pada umumnya, serta pengulangan bait seperti reff yang terdapat pada lagu.
Musikalisasi puisi dibawakan dalam bentuk nyanyian. Namun, pada umumnya dibawakan atau diiringi dengan alat musik sperti gitar, gendang, seruling, dsb. Hal ini merupakan daya tarik dari puisi dan tentunya ini juga termasuk dalam bersastra. Dengan tidak mengubah bentuk puisi aslinya, itulah yang dinamakan dengan musikalisasi puisi.
Di dalam musikalisasi puisi, lebih dari 1 hal yang dipadukan. Seperti musik dan drama. Keduanya bercampur menjadi satu kemasan. Ketika orang membaca puisi saja. Mungkin dia akan berekspresi atau berdrama dengan seorang diri biasa dan itu seperti monolog. Berbeda hal dengan musikalisasi puisi yang setidaknya melibatkan lebih dari satu orang. Dalam musikalisasi puisi terdapat beberapa penyanyi yang menanyikan puisi serta pemain musik sebagai pengiringnya. Acapkali dalam pertengahan pertunjukan musikalisasi puisi terdapat pembacaan puisi klimaks atau pembacaan penggalan puisi. Lalu dilanjutkan dengan nyanyian puisi tersebut kembali.
Banyak hal menarik dalam musikalisasi puisi. Kita dapat mengkomposisikan nada-nada. Paling tidak dapat menciptakan nada-nada untuk puisi yang akan dinyanyikan. Selain itu dapat melatih suara, karena biasanya musikalisai puisi terdiri dari beberapa orang yang di dalamnya terdapat beberapa penyanyi, maka ada suara satu dan suara dua agar memeiliki kekreativitasan dalam musikalisasi puisi.
Setiap orang bisa melakukan musikalisasi puisi dengan cara berlatih. Karena hal ini sangat menyenangkan. Selain itu musikalisasi puisi juga merupakan perwujudan dari karya sastra, yaitu bentuk pengekspresian jiwa. Berimajinasi dalam pembuatan nada-nada dan lain sebagainya.



nb: semoga bermanfaat ^_^

Comments

Popular posts from this blog

TAKARIR ATAU CAPTION?

Halo, perkenalkan nama saya Labibah, tapi saya lebih akrab dengan sapaan Bibeh. Saya suka menulis dan membaca dan kebetulan juga saya berprofesi sebagai pendidik. Saya lebih senang disebut pendidik karena mendidik itu lebih dari sekadar mengajar. Di sini, saya akan menyampaikan sedikit materi tentang penulisan takarir. Hmm takarir? Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu takarir? Takarir ada tulisan penjelasan. Bisa berupa penjelasan arti dari percakapan sepanjang film asing ( subtitle ) atau penjelasan tulisan mengenai gambar ( caption ) yang disebut dengan takarir gambar. Baik takarir ataupun takarir gambar sudah ada definisinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru yaitu edisi ke-V seperti yang ada pada gambar berikut, Belum punya KBBI, ya? Unduh dulu, yuk! Ini aplikasi resmi dari Pusat Pengembangan Bahasa di bawah naungan Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan. Ti...

Pulang

Seringkali terpikirkan dalam benak ini kepada orang-orang yang dengan mudahnya menemukan pasangan dalam hidupnya, entah dengan unsur kesengajaan ataupun atas skenario tuhan. Ingin berteriak tuhan tak adil rasanya sangat lebih tak adil mengingat apa yang selama ini kita dapatkan melebihi apa yang orang lain belum dapatkan. Sudah seberusaha mungkin diri ini menjatuhi cinta pada siapapun yang coba mendekat, namun nihil. Entah apa yang telah menggerayangi tubuh ini. Aku lebih menikmati kesendirian atau mungkin memaksakan diri dalam kenyamanan yang telah kukenakan. Pernah kucoba, tapi kandas begitu saja, entah ada unsur kecemburuan tuhan atau memang mereka   datang hanya sebagai sebuah pembelajaran dengan ujian akhir yang lebih dan selalu sulit daripada latihan-latihan soal di sekolah. Pernah kehilangan sesuatu yang bodoh karena hal yang bodoh, dan dengan bodohnya, aku masih saja menyesali kebodohanku. Sungguh bodoh, bukan? Pemilih? Sepertinya yang terlihat memang seperti ...

mau bersua sebentar

udah lama ya gak ngepost di blog.. kali ini ogut mau nge-share tentang "Lajang? Kenapa Malu?" Mungkin bagi sebagian orang ga tahan untuk berlama-lama menjomblo. Gini aja deh, kalo pacaran kan juga capek sendiri. Kenapa? Karena cuma nambahin beban pikiran aja.  pacaran atau single ya sama aja sih menurut ogut. lah iya, sama-sama belum dsahkan oleh negara dan agama menjadi pasangan yang halal. Ah ribet.. intinya ya sama-sama belum nikah (X_X). gitu. udah ya cukup sampai di sini. Nantikan postingan selanjutnya :p